Showing posts with label masyarakat. Show all posts
Showing posts with label masyarakat. Show all posts

Tuesday, October 30, 2012

Laten KAPITALIISME Awas !!!

Assalamu'alaikum...

Alkisah ada suatu daerah di Gunungkidul yg pasarnya ramai sekali. Perputaran uang dalam sistem perdagangan di pasar itu sangat cepat dan nominalnya besar. Arus distribusi barang dan orang   bergerak setiap hari dg ramainya selama 24 jam dari pasar ke pusat sayur mayur di Gamping. 

Untuk melayani pergerakan orang dan barang, terdapat perusahaan angkutan yang dikelola oleh Koperasi pasar. Koperasi itu lebih mirip perusahaan keluarga karena jajaran pengurusnya sebagian besar berasal dari klan yg sama. Sebagai ketua Koperasi sebut saja Lik Paijo. Lik Paijo itu waktu mudanya adalah centeng pasar, dan sekarang dengan usaha angkutan yg dia kelola taraf hidupnya pun meningkat. Hidupnya mewah dan suka foya2.  

Sesungguhnya bisnis angkutan Gunungkidul-Gamping lebih mirip monopoli. Jalan raya menuju Gunungkidul cuma ada 1, dan karena trayek angkutan sudah dikuasai oleh Koperasi, maka Lik Paijo tidak mengijinkan ada usaha angkutan lain tumbuh dan menyaingi usahanya. Kalau ada yang coba2 menyaingi usahanya Lik Paijo tidak segan2 main kayu, apalagi dengan trademarknya sebagai "mantan preman". 

Aset utama koperasi saat ini adalah bis tahun 80-an, tanpa AC dan sudah reyot. Tingkat okupansi jalur tsb sebenarnya bagus. Setip rit selalu penuh. Malah dapat dikatakan over capacity karena penumpang sampai berdesak2an. Namun sayangnya dg manajemen transport yg kurang profesional, usaha angkutan Koperasi dapat dikatakan jalan di tempat\/stagnan. Dari 10 tahun yg lalu sampai sekarang bisnya cuma 1 dan itupun sering mogok. Selain itu banyak uang pembayaran penumpang yg tidak disetorkan ke Koperasi tetapi masuk saku pribadi Pak Kondektur. Pengurus bukannya tidak tahu, tapi dengan pola rekrutmen pegawai yg nepotisme hal tsb selalu dimaklumi oleh Lik Paijo. "wes rapopo...dudu duitku dewe iki. Kang Paimin (Pak Kondektur) mesakno mau bengi bar kalah taruhan, sesuk lek menang taruhan rak dibaleke", begitu komentar Lik Paijo. 

Ternyata pola transportasi Gunungkidul-Gamping, menarik perhatian seorang dosen ekonomi di UGM sebut saja Mr.John. Mr.John ini bule dan di negaranya dia adalah anak seorang konglomerat kapitalis. Selain mengajar sebagai dosen, dia punya misi untuk menancapkan kuku bisnis ayahnya di negara baru Indonesia. Meskipun secara itung-itungan ekonomi, bisnis angkutan Gunungkidul-Gamping memberikan imbal hasil yang cukup menarik, dengan margin keuntungan jauh melebihi suku bunga bank, tingkat pengembalian modal yg cepat dan jumlah modal kecil. Namun setelah dikaji dari sisi manajemen risiko, sangat tidak memungkinkan kalau dia menyaingi usaha angkutan Lik Paijo. Terlalu frontal dan resikonya besar.

Lik Paijo ternyata punya anak yg cukup pintar sebut saja Jono. Dan kebetulan Jono menjadi mahasiswa Mr.John di UGM. Mr.John tahu persis hal itu dan insting marketing inteligent-nya pun jalan. Dia tawari Jono melakukan penelitian terkait bisnis yang dikelola ayahnya. Imbalannya Jono disekolahkan ke Amerika dg beasiswa penuh dari John Foundation milik ayah sang dosen. Dasar Jono anaknya pinter, muda, idealis dan penuh semangat, kesempatan itu tidak dia sia-siakan.

Singkat kata Jono akhirnya mendapat gelar Doktor dalam penelitiannya. Disertasinya berjudul "Transportation Dynamics in Rural Areas". Analisanya antara lain pola manajemen usaha angkutan yang dikelola ayahnya tidak optimal. Banyak kebocoran disana-sini, pola manajemen yang menimbulkan budaya korupsi dan in-efiensi. Intinya pola pengelolaan usaha angkutan ayahnya harus dirombak sesuai konsep yang dia teliti bersama dosen pembimbingnya (Mr.John)

Karena yg memberi masukan adalah anaknya sendiri maka Lik Paijo pun luluh. Pikirnya masa sih anaknya sendiri bakal ngapusi Bapaknya.  Akhirnya Lik Paijo teken kerjasama operasi dalam bidang usaha angkutan dengan Mr.John. Klausul kerjasamanya kurang lebih seperti ini :
  1. Peremajaan bis menggunakan bis AC tingkat (double decker). Dengan alasan kapasitas angkut 2x labih besar.
  2. Produsen bis tingkat di Indonesia cuma ada 1 yaitu merk Ford yang diageni oleh Jo Motor, dan harganya 4 kali lipat dari bis biasa.
  3. Modal koperasi tidak cukup untuk beli bis baru merk Ford, untuk itu Lik Paijo harus pinjem ke Bank of Jones. Karena hanya Bank of Jones yang mau memberi pinjaman jangka panjang meskipun dengan bunga selangit. Sebagai agunan, Koperasi harus rela menyekolahkan 4 sertifikat kiosnya ke Bank of Jones.
  4. Ternyata rasio pendapatan usaha Koperasi sebenarnya tidak cukup untuk mbayar angsuran bis. Angsuran bis per bulan adalah 10 juta selama 3 tahun, sedangkan pendapatan bersih Koperasi per bulan hanya 6 juta. Untuk itu disepakati suntikan modal sebesar 4 juta per bulan dari kantung Mr.John dengan imbalan 40% saham Koperasi dikuasai Mr.John.
  5. Untuk menjamin pengelolaan usaha berjalan optimal, perbaikan dicanangkan. Mulai dari sistem pembayaran tunai diganti dg tiket, counter penjualan tiket deganti dengan mesin, perombakan pegawai, awak kabin menggunakan pegawai lama tetapi khusus kondektur dan bendahara diisi oleh orang2 bawaan Mr. John, sistem kerja yg tadinya 1 shift menjadi 3 shift nonstop plus sabtu minggu masuk.
  6. Terkait dg kewajiban membayar angsuran, tarif dinaikkan menjadi 4x lipat dari sebelumnya. Ini adalah kenaikan fantastis yg belum pernah terjadi sebelumnya. Asumsi Mr.John penumpang pasti mau karena tidak ada alternatif transportasi lain. Sehingga setelah dihitung pendapatan yang diterima per bulannya minimal adalah 20 juta atau 2 kali dari kewajiban angsuran. 
Singkat kata setelah 3 tahun berjalan, tiba saatnya amandemen\/ re-signing kerjasama operasi. Mr.John menawarkan opsi :
  1. Lik Paijo akan membeli 40% saham Mr,John atau malah menjual 60% saham miliknya ke Mr.John.
  2.  Setelah dihitung2, Lik Paijo harus mengeluarkan uang cash yg cukup besar untuk membeli saham Mr.John. Selain itu setelah dipakai selama 3 tahun efisiensi dari bis itu sendiri sudah turun jauh, sehingga biaya maintenance bis lebih besar dari cicilan bis baru.
  3. Akhirnya disepakati bahwa Lik Paijo menjual 60% saham miliknya. Praktis berakhirlah era koperasi angkutan yg dipimpin oleh Lik Paijo beralih menjadi perusahaan swasta yg dikelola oleh Mr.John.
Behind the Scene : 
  1. Selidik punya selidik ternyata Bank of Jones dan showroom Jo Motor adalah milik grup perusahan ayahnya Mr.John.
  2. Ternyata bis AC tingkat (double decker) adalah produk Ford yang tidak laku (dead stock) yang sebenarnya tidak cocok dengan situasi jalanan di Indonesia sehingga banyak nyangkut pohon. Dan dengan kondisi jalan Gunungkidul yg berkelok-kelok gerakan bis menjadi tidak lincah\/lambat.
  3. Ternyata Mr.John adalah pemegang saham yg cukup besar di Ford Motor.
  4. Ternyata total keuntungan Mr.John sangat besar (bunga bank + bagi hasil usaha + keuntungan showroom + efisiensi usaha + kenaikan tarif 4x lipat).
  5. Ternyata modal yg dikeluarkan Mr.John sangat kecil (beasiswa dari John Foundation yg sebagian besar dari para dermawan + cicilan bis pertama (cicilan beikutnya sudah nutup dari pendapatan usaha)). Dan resikonya pun kecil, apbila terjadi sesuatu di tengah jalan kios Lik Paijo yg diagunkan ke Bank dengan mudahnya disita dan dicairkan. 
  6. Ternyata kerugian yg diderita Lik Paijo sangat besar yg sebelumnya dia seorang pemilik usaha menjadi bukan siapa2 dalam waktu 3 tahun, dan celakanya yg menyebabkan hal itu terjadi adalah anaknya sendiri.
Itulah Kapitalisme yg tanpa kita sadari saat ini kita menjadi bagian dari sistem-nya. Untuk itu hati-hatilah minimal bisa dimulai dari diri sendiri dengan cara istiqomah menolak riba/bunga bank. Riba seperti Bid'ah, berbahaya karena seolah2 kita melakukan kebaikan padahal sedang menuju kehancuran. Berdoalah Allah akan menghancurkan riba dan menyuburkan sedekah.
Moral dari cerita diatas :
  1. KKN tidak ada hubungannya dengan sistem, KKN dan in-efisiensi adalah masalah kinerja.
  2. Pendidikan mutlak diperlukan, tapi itu nomor 4, nomor 1,2 dan 3 nya adalah fondamen ahlak. Ilmu mudah dan cepat dipelajari tetapi ahlak butuh proses dan pembiasaan.
  3. Pemimpin harus memiliki 2 karakter yaitu "Hafizun Alim" atau Amanah dan Berilmu. Amanah tanpa ilmu maka akan rugi. Ilmu tanpa amanah maka akan korupsi.
  4. Hati-hati dengan pemberian, berupa apapun, apalagi LSM. Banyak negeri yang tadinya makmur dan stabil hancur karena LSM.
  5. Sesuaikan keinginan dengan uang yg kita miliki jangan kebalik karena hal itu akan memacu kita untuk ber hutang.
Terima Kasih, Mudah mudahan bermanfaat...

Selamat merayakan hari raya, semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah, amin

Saturday, October 27, 2012

Gaji Orang INDONESIA


Tidak biasanya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ir Tifatul  Sembiring tidak mengucapkan pantun saat memberikan kata sambutan pada seminar politik yang dihadiri oleh Prof James Fox dari Australian National University dan Jakob Oetama, tokoh pers, di Jakarta,

Tifatul justru menyampaikan sebuah lelucon yang menggambarkan potret masyarakat Indonesia, yang sampai kini masih menjadi permasalahan bangsa.

Lelucon itu menceritakan dua orang yang sedang berdialog. Satu orang
Eropa dan satunya, sudah tentu orang Indonesia.

Orang Indonesia bertanya pada orang Eropa, berapa gajimu dan untuk apa saja uang sejumlah itu?

Orang Eropa menjawab, "Gaji saya 3.000 Euro, 1.000 euro untuk tempat
tinggal, 1.000 Euro untuk makan, 500 Euro untuk hiburan."

Lalu sisa 500 Euro untuk apa? tanya orang Indonesia. Orang Eropa menjawab secara ketus, "Oh ... itu urusan saya, Anda tidak berhak bertanya!"

Kemudian orang Eropa berbalik bertanya. Kalau anda bagaimana?

 "Gaji saya Rp950 ribu, Rp450 ribu untuk tempat tinggal, Rp350 ribu untuk
makan, Rp250 ribu untuk transport, Rp200 ribu untuk sekolah anak, Rp200
ribu untuk bayar cicilan pinjaman, ... Rp100 ribu untuk....".

Penjelasan orang Indonesia terhenti karena orang Eropa menyetop
penjelasan itu dan langsung bertanya.

"Uang itu jumlahnya sudah melampui gaji anda.
Sisanya dari mana?" kata
orang Eropa itu keheranan.

Kemudian, orang Indonesia itu menjawab dengan enteng," begini Mister,
tentang uang yang kurang, itu urusan saya, anda tidak berhak bertanya-tanya,"

Spontan hadirin tertawa, termasuk Prof James Fox yang tertawa hingga
terpingkal-pingkal.(*)